Hello,This is me!

Riz Altaf

Not everyone will understand ur journey It's Okay! You're here to live ur life Not to make everyone understand

About me

Hello

I'mRiz Altaf

Blogger and Coffee Lover

Orang-orang biasa memanggilku "Riz". Aku suka Traveling, karena bagiku dunia itu seperti buku, dan aku ingin mengetahui setiap lembar dalam buku tersebut. Pecinta Coffee, khususnya Cappuccino. Tidak heran jika Cafe adalah salah satu tempat favoritku untuk menenangkan diri ataupun mencari inspirasi. Blog ini adalah blog pribadi aku, isinya adalah tentang perjalananku. Semacam Journal. Di sini aku ingin berbagi kepada siapapun tentang semua yang pernah aku alami dan "mungkin" bisa bermanfaat untuk kalian semua. Mohon maaf jika ada salah dalam penulisan kata, semua artikel di blog ini hanyalah untuk berbagi dan semoga bermanfaat

My Stories

Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Menikmati pemandangan Jembatan Suramadu dari Jembatan Kenjeran Surabaya


Senang juga akhirnya bisa mampir ke salah satu ikon baru kota surabaya ini

***

Sepertinya jaman sekarang jembatan mempunyai satu fungsi lain selain menghubungkan suatu tempat, yaitu fungsi lain tersebut tidak bisa dipungkiri adalah untuk background foto kekinian... haha... dan surabaya sepertinya sudah melirik perkembangan jaman sekarang dengan adanya object wisata baru yang katanya tidak kalah dengan yang ada di luar negeri yaitu Surabaya Bridge.

Lalu? seperti apa itu Surabaya Bridge?
Sebelumnya aku ingin mengajak kalian untuk membaca artikel-artikelku sebelumnya yang membahas tentang jembatan, yaitu diantaranya: 


Nah 3 Jembatan tersebut diatas berada di Pulau Bali. Surabaya gak mau kalah pastinya. Kembali ke Judul postingan, di Jembatan kenjeran Surabaya ini kalian bisa melihat atraksi air mancur warna-warni yang menari-menari di malam hari. Yup. kalau kalian search kata kunci Jembatan Kenjeran di Google maka kalian akan menemukan foto jembatan yang cantik dengan air mancurnya yang warna-warni. Hanya saja pertunjukan air mancur tersebut hanya bisa dinikmati pada malam minggu pukul 20.00 sampai 21.00 sob. Yup! hanya satu jam :)

source: travel.detik.com

Karena aku ke sana pas sore hari dan hari minggu, maka aku gak bisa melihat pertunjukan air mancur yang banyak dibicarakan teman-teman di Surabaya tersebut. No Problem lah... di sore hari pemandangannya tidak kalah cantik kok, dari sini kita bisa melihat pemandangan Jembatan Suramadu dari samping :) sayangnya kameraku tidak mampu untuk memfoto Jembatan Suramadu... jadi terlihat sangat jauh haha

-

O, iya sebagai note sob... kalau ingin naik ke atas jembatan jangan memakai rok ya... karena mungkin gambar di bawah ini bisa menjelaskan kenapa ada larangan memakai rok hehehe

-

Ini Foto dari Atas
-


Yayaya... Jadi kalau kamu pakai rok ya siap-siap aja banyak yang melihat pemandanganmu dari bawah... hehehe... peace.


TPA Keputih Surabaya telah disulap menjadi Taman Sakura yg Cantik


Taman yang berada di Jl. Keputih Tegal Timur II No. 249, Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur ini merupakan relokasi dari sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Tempat ini dulunya adalah kawasan pembuangan sampah yang tidak beraturan. Tetapi kemudian pada tahun 2008-2009 kawasan ini mulai direlokasi dan direnovasi menjadi taman yang indah

-

Surabaya memang tidak pernah main-main dengan penataan tamannya. Kotanya semakin cantik :)
Aku sendiri setelah sekian lama dipindah kerja ke Bali, akhirnya minggu kemarin ada project dadakan yang mengharuskan aku untuk kembali lagi ke Surabaya walaupun hanya seminggu. Sempat bingung mau jalan-jalan ke mana untuk menghabiskan hari minggu. Untungnya temanku baik hati dan mau mengajakku jalan-jalan seharian mengelilingi kota Surabaya :) Setelah aku tinggal, cukup banyak perubahan ternyata di kota ini sob :)

***

Taman Sakura atau yang dikenal juga dengan nama Taman Harmoni ini tempatnya bersebelahan dengan Hutan Bambu. Baca artikel sebelunya di sini: Di Keputih Surabaya ada Hutan Bambu yang Rindang

Lalu, pertanyaannya mana bunga sakuranya? Aku sendiri bingung bunga sakuranya yang mana. Sepertinya mereka belum berbunga :)

-

Ikon Taman Sakura / source: surabayarek.com
Taman Sakura / source: rodadanroti.com




Di Keputih Surabaya ada Hutan Bambu yg Rindang dan Instagrammable


Siang hari cuaca di Surabaya memang bisa aku bilang cukup panas, rencananya sebenarnya kami ingin mengunjungi salah satu tempat baru yang lagi boom di dekat pantai kenjeran, yaitu Jembatannya. Bukan Jembatan suramadu ya sob, jadi di surabaya sekarang ada jembatan keren yang katanya ada air mancur warna - warninya namun air mancur tersebut hanya bisa dinikmati saat malam minggu mulai pukul 20.00 - 21.00 Yup! hanya satu jam. (Info dr temanku sih seperti itu)

***

Okay lalu kenapa kami nyasar ke hutan bambu?!
Yang satu ini gak kalah keren sob! Jadi karena waktu itu masih siang, kami mampir dulu ke taman rindang yang ada di daerah keputih ini. Lebih tepatnya alamatnya di Jl. Keputih Tegal Timur II No. 249, Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur 60111.

Masih bingung dengan daerah Keputih? Keputih itu adalah daerahnya ITS jadi ya... bisa dibilang lumayan dekat lah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Tetap bingung? pakai Google Maps aja ya sob...tempatnya berada di belakang terminal keputih.

Sejuk

Buat yang ingin menyejukkan hati dari panasnya surabaya, ini adalah salah satu tempat alternatif favorit yang pas untuk kamu... asal jangan baper, karena di sini kamu bakal menemui banyak orang yang lagi Pre Wed. Emang keren sih tempatnya sob, Rindang dan Instagrammable. Dan tahukah kalian sob? bahwa dulunya di sini adalah TPA. Siapa sangka TPA bisa berubah menjadi tempat sekeren ini? Yap! Surabaya emang keren :)

-


Air Terjun Kali Pahit - Bondowoso , Airnya berwarna Hijau


Pertama kali aku ke Kawah Ijen, temanku sempat bilang kalau di dekat kawah ijen tersebut ada Air Terjun namun kita tidak bisa mandi karena airnya beracun. Mungkin yg dimaksud olehnya mengandung belerang.

Di saat perjalanan pulang dari Kawah Wurung, (Baca artikel aku sebelumnya di sini: Hunting Foto di Kawah Wurung ) kami sempat melihat sungai dengan air berwarna hijau cerah. Jadi kepo, dan ternyata setelah kami telusuri (Gak penting juga sebenarnya) ternyata air tersebut berasal dari Air Terjun yang ada di dekat sana. Waw... air terjun... bolehlah mampir :)

***

Letaknya tidak begitu jauh dari Kawah Ijen, lebih tepatnya di sebelah baratnya Kawah Ijen
Baca artikelku saat di Kawah Ijen: Sedikit Cerita di Kawah Ijen



Biaya masuk kami saat itu Rp. 4.000 untuk dua orang dan satu motor. Waktu kami ke sana tempatnya lumayan ramai pengunjung, dan juga ada yang mengambil foto prewed di air terjunnya. Mau tidak mau kami harus menunggu dua sejoli selesai baru bisa foto ke air terjunnya. Yayaya... mengalah lah yah buat orang yang mengabadikan moment bahagia. Hitung-hitung pahala... Jomblo mah gitu... #baper


Buat yang suka photography menurutku tempat ini cocok untuk hunting-hunting photo. Harus pintar-pintar mengambil angle juga sih sebenarnya, karena air terjunnya juga tidak tinggi :)

airnya ijo

awas tersesat

-

-

O ya, kenapa dinamakan kali pahit? mungkin karena rasa airnya pahit kali ya? aku belum pernah nyoba... kalau uda ada yang pernah, kasih tahu aku ya... haha

Hunting Photo di Kawah Wurung - Bondowoso


Kawah Wurung ini terletak di daerah Jampit Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso letaknya disebelah barat dari objek wisata Kawah Ijen. Yup jika sobat dari arah Banyuwangi menuju Bondowoso, setelah Kawah Ijen lurus saja kurang-lebih 11 km dari pintu masuk Kawah Ijen.

Kondisi jalan dari kawah ijen menuju Kawah Wurung bisa dibilang lumayan bagus. Yang agak rusak dan kemungkinan becek saat hujan yaitu pas masuk ke daerah kebun kopinya. Jadi dari jalan raya kamu tengok ke kiri nanti ada papan jalan bertuliskan Kawah Wurung.



Kalau dari GoogleMap sih 2 h 25 min (11.3 km) dengan Jalan kaki dari Kawah Ijen menuju Kawah Wurung. Gak sulit kok sob, tempatnya mudah ditemukan. Nanti kamu juga bakal melewati kampung di sana setelah kebun kopi.

***

Tiket masuk kawah wurung Rp.5000 / orang dan Rp.2000 / motor. Di sana juga sudah disediakan Musholla untuk sholat dan juga ada toilet buat yang kebiasaan kebelet saat lagi jalan-jalan.

its me

Sesuai tulisan di papan sih orang-orang menyebutnya penanjakan cinta. Entah kenapa ada embel-embel cintanya... haha... #nobaper

Pemandangannya cantik sob! Cocok sekali untuk yang punya hoby hunting-hunting photo. Kebetulan aku ke sini juga lagi nganterin temanku yang suka hunting-hunting photo. Juga mau buat video tapi ternyata gagal. Bisa dicoba lain kali... hehe

Berangkat pagi hari dari Banyuwangi, sampai di sana sekitar jam 8. Matahari sudah muncul namun tidak begitu panas terasa di badan. Padahal kami juga ke sana di saat puasa berharap gak kehausan dan alhamdulillah terkabul

-

-

-

Tidak begitu banyak aktifitas yang bisa kamu lakukan di sini, karena memang tempat ini untuk dinikmati keindahannya. Jangan berharap bisa mandi seperti di pantai :)

***

Sempat tanya ke petugas tempat wisatanya, ternyata di sini juga di sediakan lahan untuk Camp. Jadi buat yang mau pasang tenda dan bermalam di sini, silakan. Membayangkan aja kayaknya asyik tapi serem juga ya... benar-benar jauh dari keramainan.

-

-

Ikutan foto-foto kekinian... biar gak dibilang ketinggalan jaman. Hehe...  

Sedikit Cerita di Kawah Ijen - Banyuwangi


Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Apa tujuan mereka? Mendaki dan terus mendaki tanpa mengenal lelah. Mereka harus rela menahan haus demi mecapai puncak. Walaupun terik matahari begitu menyengat di atas kepala. Masih muda? Tidak juga. Tidak jarang aku temui orang yang sudah tua, atau sudah bisa dipanggil kakek-kakek namun masih kuat dan semangat untuk mendaki sampai puncak. Bukan hanya sekedar hoby, tapi inilah yang disebut passion.

****

Ponselku berdering, Ada pesan BBM dari temanku. Dan setelah aku baca, ada satu kata yang membuatku tersenyum, “Ijen”. Satu-satunya tempat favorit aku yang berada di tanah kelahiranku, Banyuwangi. Jam menunjukkan angka 2, hari sabtu, tanggal 15 Agustus 2015. Saat itu aku berada di Denpasar. Jauh-jauh hari sebelumnya mempunyai beberapa plan yang memungkinkan aku untuk pulang ke Banyuwangi, tapi terpaksa aku Cancel karena suatu hal. Namun tidak untuk kali ini, dengan kata lain dadakan, aku pastikan setelah pulang kerja aku langsung berangkat ke Banyuwangi.

Mengingat ini adalah perjalanan pertamaku di malam hari sendirian menggunakan motor, Safety First tentunya. Aku pastikan kondisiku tubuh dan motor dalam keadaan stabil. Perjalanan Denpasar-Banyuwangi malam hari menggunakan motor bisa dibilang butuh konsentrasi ekstra untuk orang sepertiku. Aku punya sedikit masalah dengan penglihatan saat malam hari, dan saat seperti ini aku merasa ini adalah sebuah tantangan yang cukup berat untukku. Apalagi disaat lampu kendaraan dari arah berlawanan menyorot langsung ke arahku, di jalan yang gelap tanpa lampu penerangan ini aku cukup kehilangan kendali. Penglihatanku kabur, namun terus berusaha mengikuti garis putih di batas jalan. Dan apa yang terjadi saat punya masalah dengan mata? Otakpun ikut terlibat. Kepala terasa berat, badan mulai terasa dingin. Jaket tebalkupun terasa tidak mampu menahannya. What happened to me? Berhati-hati dan terus berdoa adalah dua hal yang penting saat berada di perjalanan. Dan itulah yang terus aku terapkan di kondisiku saat ini.

Tanpa memberitahu orang tuaku sebelumnya, alhasil sampai di rumah banyuwangi kedua orangtuaku terkejut dengan kedatanganku. Setelah ditanya apa alasan pulang ke rumah? Dengan simple aku menjawab, “Ijen”. Mereka hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala J. Mungkin mereka sudah tidak heran dengan sifat anak mereka yang satu ini..

****

Minggu, pagi hari. Udara di Banyuwangi begitu dingin. Mandipun terasa seperti berada di kutub utara (padahal belum pernah ke kutub utara). Rencana berangkat pagi hari, tapi ternyata temanku ada masalah sehingga kita tunda menjadi siang hari. No Problem, setidaknya itu memberikan aku waktu berkumpul dengan keluarga walaupun sebentar. Setelah temanku selesai menyelesaikan masalahnya, akhirnya kita berangkat bertiga menuju Kawah Ijen. Di dalam perjalanan, di setiap tikungan aku merasakan ada sebuah flashback.  Sebuah kenangan saat pertama kali kesini bersama teman-teman SMPku. dahulu sekitar tahun 2005. Tapi sekarang jalannya terasa lebih mulus dari sebelumnya. Sudah lebih baik J

****

Matahari cukup menyengat di siang hari. Setelah membayar Tiket Masuk Kawah Ijen Rp.7000 dan Parkir Motor Rp.5000. Sesuai informasi, jaraknya tidak begitu jauh yaitu 3km. Lumayan lah untuk latihan orang yang sudah lama tidak mendaki sepertiku. Aku berhenti mendaki sejak masuk di SMK. Tidak begitu banyak waktu untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah sepertihalnya saat SMP. Apalagi disaat sudah bekerja, yang ada deadline setiap hari. Selain itu, cukup susah mencari teman untuk mendaki karena mereka juga memiliki masalah yang sama sepertiku. Di lain sisi, temanku paling banyak lebih menyukai ke Pantai daripada Gunung. “Untuk apa sih ke gunung? Bikin capek dan gak bisa buat mandi seperti di pantai”, begitu mereka menjawabnya. So? Untuk apa sih kalian ke gunung sob? J

Karcis Masuk Kawah Ijen


Ada sedikit masalah lagi, ternyata pacar temanku tidak begitu suka gunung sehingga setelah sampai di Palutuding dia tidak mau ke puncak. Aku cukup kecewa karena dia tidak memberitahu sebelumnya, tapi aku bisa memahami alasannya. Setelah kita diskusi sebentar, akhirnya mereka memilih untuk istirahat saja di sana dan mengijinkan aku untuk ke puncak sendirian. Aku sempat bingung, aku memang begitu ingin ke puncak kawah ijen ini cukup lama dan sekarang kawah tersebut sudah ada di dekatku. Tinggal 3km lagi sampai puncak. Tapi aku juga tidak enak meninggalkan teman-temanku. But, disinilah aku mendapatkan cerita lain. Temanku bilang, “kalau kamu bisa memahami alasan kita tidak naik ke puncak, lalu bagaimana dengan kita yang begitu jahat karena tidak bisa menemanimu untuk sampai ke puncak?”

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendaki sendirian ke puncak kawah ijen. Saat itu tidak begitu ramai pendaki, karena kebanyakan mereka memilih untuk Camp dulu disana dan ke puncaknya esoknya di pagi hari saat tanggal 17 Agustus. Jalannya kering dan berdebu sehingga cukup susah digunakan untuk mendaki. Dalam perjalanan seringkali ada yang terpeleset. Untungnya di tengah perjalanan aku menemukan kayu yang bisa aku gunakan sebagai tongkat untuk mendaki. Saling menyapa saat berpapasan dengan pengunjung lain dan walaupun sendirian, aku cukup punya banyak kenalan di dalam perjalanan. Kita memiliki tujuan yang sama yaitu puncak. Memang sih, sepintas menjadi single traveler itu seperti “Lonely”. Tapi tahukah kamu, disaat aku menjadi Single Traveler seperti ini aku merasa menjadi diri sendiri di duniaku sendiri dan ya, “Inilah Aku”. Aku merasa bebas.

-

-

-


Ada kepuasan tersendiri yang mungkin tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Sepertihalnya kamu memiliki satu cita-cita yang terwujud, itulah yang aku rasakan saat sampai di puncak Kawah Ijen ini. Mungkin memang sedikit terlihat aneh, sendirian mendaki. Tapi jangan heran, ternyata bukan aku sendiri disini yang menjadi Single Traveler. Di sekeliling banyak aku temui orang yang mendaki sendirian. Dan kebanyakan “Bule”. Apa mereka sering travelling sendirian ya? Gimana ya rasanya? J

****


-

-

-


Kawah Ijen memang patut dibanggakan. Dengan pemandangannya yang sangat indah tidak heran menjadikan tempat ini sebagai tujuan para traveler lokal dan internasional. Apalagi Kawah Ijen memiliki “Blue Fire” yang hanya ada 2 di dunia. Pemandangannya begitu cantik yang seringkali disembunyikan oleh asap belerang sehingga untuk mengabadikan dalam foto, kamu harus sabar menunggu asapnya hilang walaupun hanya sebentar mengikuti angin.

Aku berjalan mengambil setiap sudut pemandangan di kawah ijen ini dengan tongkat kayu di tangan kiri dan kamera di tangan kanan. Tanpa aku duga sebelumnya aku bertemu dengan teman lama aku disaat aku SMP. Ternyata mereka juga disana, akhirnya kita cukup lama berbincang-bincang dan juga mengabaikan foto bersama.

-

-

-

-



****

Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera.

Untuk ke Kawah Ijen, kamu bisa melewati dua rute yaitu dari Banyuwangi atau Bondowoso. Rute dari Banyuwangi menuju licin berjarak 15km dengan menggunakan roda dua atau roda empat selama kurang-lebih 30menit dan jalannya sudah lebih baik daripada beberapa tahun yang lalu. Dari licin menuju Paltuding berjarak sekitar 18km dan memakan waktu kurang-lebih sekitar satu jam karena kamu harus melewati jalan yang dinamakan tanjakan erek-erek yaitu berupa belokan berbentuk “S” dan sekaligus menanjak. Dari Paltuding kamu tinggaal berjalan kaki melewati jalan setapak sejauh 3 kilometer menujuh kawahnya.

Rute dari Situbondo menuju Sempol (Bondowoso) melalui wonosari kemudian dilanjutkan ke Paltuding dengan jarak 93km atau sekitar 2.5 jam. Namun aku belum bisa menjelaskan lebih lanjut untuk rute yang satu ini, karena aku belum pernah melewatinya J

****

Happy Traveling , jangan lupa jaga keselamatan dan cintai alam kita bersama dengan cara ikut melestarikannya juga pastinya. Jangan mengambil apapun kecuali photo, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.



Pantai Tersembunyi di Baluran, Pantai Bama - Situbondo


Pantai? Di Situbondo? Pantai Pasir Putihkah? No..!! Ada lagi satu pantai yang tersembunyi di kawasan Taman Nasional Baluran. Selain dengan adanya Savana, Taman Nasional Baluran Juga memiliki pantai yang tidak kalah indah dengan pantai-pantai lain. Pantai Bama. Entah kenapa diberi nama Pantai Bama, aku gak tahu dan juga ya, gak mau tahu #plak.

Setelah istirahat sebentar di daerah savanna, Baca artikelku sebelumnya: Nuansa africa di Savana Bekol Baluran sesuai dengan kesepakatan bersama kita melanjutkan perjalanan kita menuju pantai yang tersembunyi di daerah baluran tersebut. Waktu dilihat dari atas tower sih gak begitu jauh. Tinggal lurus saja mengikuti jalan. Tapi ya seperti pengalaman sebelumnya, masalah kita tetap sama. Jalannya tidak begitu bagus sehingga kita harus sabar melewati jalan yang lurus tapi tidak mulus. Jarak dari savanna bekol ke pantai bama adalah 3km. Tidak begitu jauh kok sob, menurutku.

Aku sedikit kecewa saat sampai di sana. Di papan tertulis, kita bisa snorkeling. Dan aku juga sempat Tanya ke petugasnya sebelum melewati pintu masuk utama. Malah petugasnya dengan sangat yakin bilang, “Iya mas, bisa snorkeling dan peralatannya juga sudah disediakan disana”. But, apalah daya sampai disana ternyata jasa snorkelingnya tutup, katanya gak ada petugasnya. Wah sayang banget, padahal kalau melihat foto yang ada di papan-papan sepertinya sangat indah terumbu karangnya.

Untuk masuk ke Pantai Bama ini, kita hanya Bayar parkir Rp. 5000. Pantainya indah dan rindang dengan adanya pohon di sekitarnya walaupun waktu itu suasananya ramai sekali pengunjung, sehingga aku kurang begitu nyaman menikmati keindahan pantainya. Jadi mirip pasar #hehe belum lagi banyak berkeliaran monyet-monyet  nakal yang gak jelas tingkahlakunya #hash.

Berawal dari penasaran, akhirnya aku dan temanku mencoba untuk men-survey pantai ini. Kita berjalan di pinggir pantai menuju ke arah belakang mangrove yang sepertinya terlihat adanya karang-karang indah disana. Dan ternyata, dugaan kita benar. Kita menemukan spot yang bagus untuk mengabadikan photo di pantai tersebut. Apalagi waktu itu tempatnya sepi. Inilah hasilnya:


Burung putih yang aku maksud

Cakep kan dari samping? Makasih :)


Pengen terbang tapi gak punya sayap. wkwk


Cukup lama kita istirahat disana, jeprat-jepret, loncat-loncat gak jelas. Seperti lagi liburan di Private Beach. Bagaimana tidak, sepi banget sob. Sempat berfikir sih, ini kita memasuki daerah terlarang atau gimana ya? #hehe. Batu-batu karang di pinggir pantai menjadikan pantai ini enak untuk dipandang. Belum lagi dengan adanya burung-burung putih (gak tau namanya) yang terkadang hinggap di bebatuan membuat aku ingin terbang #gaknyambung


Setelah puas dengan foto-foto yang kita dapatkan, akhirnya kita pulang. Mengingat kita masih belum mengambil oleh-oleh dari savanna bekol. Sebelum matahari terbenam, juga keburu malam. So, akhir kata buat yang ada planning ke Savanna Bekol Taman Wisata Nasional Baluran, gak ada salahnya kamu mampir ke Pantai yang satu ini. Nanggung sob, tinggal nambah 3km lagi dari Savanna Bekol. Okay, happy travelling dan selalu ingat untuk ikut melestarikan keindahan alam yang ada di dunia kita bersama. Jangan sampai kita merusaknya. Semoga Bermanfaat.

Nuansa Afrika di Savana Bekol Taman Nasional Baluran - Situbondo


Africa van Java. Panggilan yang pas untuk taman wisata nasional yang satu ini. Dengan savananya yang luas dan pemandangannya yang sangat indah, menjadikan tempat ini masuk dalam wishlist para traveller dan fotografer lokal maupun interlokal. Eh, Internasional. Kota Situbondo patut bangga karena memilikinya. Buat para sahabat yang suka dengan pemandangan rumput yang tandus dan gersang seperti di Afrika, saran aku sempatkan waktu kalian untuk mengunjungi tempat yang satu ini.

Berangkat dari kota kelahiranku, #gakpentingbagimu dan pas waktu itu aku lagi pulang kampung di Banyuwangi. #tambahgakpentingjuga Kita, (aku dan temanku) berdua dengan motor yang berbeda berangkat pagi hari menuju arah Situbondo yaitu arah ke Taman Nasional Baluran, tepatnya. Sampai di pintu masuk wisata siang, karena sebelumnya kita sempat mampir ke warung di pinggir jalan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Bagaimanapun, aku hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kelaparan.

Cuaca mulai panas, terlihat petugas mengarahkan kita ke tempat pembelian tiket masuk. Harga tiket masuk di Taman Nasional Baluran kali ini cukup terbilang mahal, karena kita datang pas di hari Liburan. Waktu itu, satu orang wajib bayar 3 Karcis masuk dengan rincian: Karcis masuk Kendaraan Roda dua Rp. 7500, Karcis masuk Hari Libur Rp. 7500, dan Karcis masuk Pengunjung Rp. 10.000. Jadi total satu orang bayar Rp. 25.000. It’s Okey, sepadan dengan apa yang kita dapatkan di taman wisata ini.

Namun, jangan berbahagia dulu. Untuk menuju ke salah satu tempat wisatanya yaitu Savanna Bekol, kamu harus melewati jalan yang bisa dibilang kurang bagus / tidak bagus / rusak / rusak parah. Dan lebih parahnya, jalan yang harus kamu tempuh itu sejarak 12km. Oh, shit!! Jangan harap kamu bisa ngebut. Eman motornya, bukan orangnya. #peace!!!. Getaran-getaran di sekujur tubuh mulai terasa saat di perjalanan. Bukan getaran cinta, melainkan getaran melewati jalan yang gronjal-gronjal. Sempat berfikir, ini aku mau ke savanna atau ke sungai ya?. Sebenarnya bukan berarti jalannya masih berupa tanah / belum di aspal. Jalan yang waktu itu (semoga kedepannya lebih baik) kita  lewati sudah beraspal tapi rusak. Entah kenapa, aku juga tidak tahu karena aku gak begitu paham dengan sifat jalan. Setahuku, selama ini aku tetap melewati jalan yang benar. Gitu aja. #TambahGakNyambung

12km menuju savanna dan ditambah 3km untuk menuju pantainya, yaitu Pantai Bama. Gak bisa ditawar? Coba aja sana kalau ingin nawar. Selama perjalanan menuju savanna bekolnya bisa dibilang mulus. (bukan jalannya). Pelan-pelan tapi pasti, itu slogan kita waktu itu. #Yaella. Banyak kita temui papan jalan yang lumayan bisa memotivasi kita untuk tetap melangkah, walaupun angkanya ngeselin sih sebenarnya. Bagaimana tidak, aku pikir sudah hampir sampai ternyata di papan masih tertulis kurang 6km lagi. What?! Jadi ini masih setengahnya? OMG!!! #lebay #gakpantes #thanks. Sampai akhirnya Wajah langsung berubah saat aku melihat papan dengan tulisan “Savana Bekol 1km Lagi”.

Papan bertuliskan “Savana Bekol” terpampang nyata menyambut kedatanganku. Pohon legendarispun yang biasa aku temui di Sosial Media mencoba mengayun-ayunkan daunnya seakan-akan mengajakku untuk foto bersama. Aku berhenti di tempat yang waktu itu banyak sekali makhluk yang sudah tidak asing aku temui. Mungkin kamu salah satunya. Nakalnya minta ampun, baru aja motor ditinggal sholat sebentar, balik-balik jok hilang secuil (baca:robek). Ya, bukannya menuduh sih ya nyet. Tapi kalau bukan kamu, siapa lagi? Iya… kamu… huum.. kamu. #plak #peace #hehe. Untung saja bukan motorku yang kena, melainkan motornya temanku #hehe #peace2x

Belum sempat foto alay sih disana, karena kita (kita?) uda sepakat untuk menuju pantainya terlebih dahulu. Eh tapi sebelumnya sempat naik ke tower pencarian orang hilang #hehe #ngawur. Juga sempat mejeng disana. Pemandangannya indah sob dari atas. Apalagi ditambah adanya aku disana. Hm… Nikmat apalagi yang kamu dustakan? –SenyumSemanisMungkin-. Ngomong-ngomong melihat ini tower jadi ingat kerjaan survey. Maklum lah aku kan anak Telekomunikasi #bangga #abaikan. Ya seperti itulah sob perjalananku sampai di savanna bekol ini. Untungnya kita tadi sudah makan sebelumnya, jadi tidak kelaparan. Setelah sholat dhuhur dan sekalian aku jamak ashar, kita berangkat menuju pantai yang ramai dibicarakan saat ini. Pantai Bama. Baca ceritanya disini: Pantai Tersembunyi di Baluran, Pantai Bama

Foto dari atas tower


OK. Bagaimana pantainya? Indah kan? Lo gak nyambung? Kamu yang gak nyambung. #membeladiri. Sudah dibaca belum perjalananku sampai ke pantainya? Belum? OK. Terimakasih. Anggap saja sudah. Mari kita lanjutkan.

Pulang dari pantai sore hari, di setiap perjalanan kita berhenti sebentar. Bukan karena lelah, atau ban kempes. Tapi karena satu hal yang wajib kita lakukan, walaupun tidak harus bersama. Yaitu “Foto”. OK, selayaknya model papan atas, walaupun terkadang jatuh juga. Aku pasang berbagai macam pose di jalan dengan background gunung, di papan bertuliskan “Savana Bekol” sebagai bukti kalau aku memang pernah kesana #sombong dan di salah satu pohon fenomenal yang sering aku jumpai di social media. Akhirnya… aku bisa selfie denganmu pohon. Semoga kamu tetap semangat menungguku kembali. Tetap sehat dan rindang pastinya. Aku akan selalu merindukanmu #ngelaturgakjelas.

OK Sob, daripada kamu nanti ketularan gak jelas sepertiku, mending aku akhiri saja hubungan kita sementara untuk saat ini. Wkwk. So? Buat kalian yang ingin kesini, 2 kata untuk kalian. “Cepat Berangkat” sebelum jalannya diperbaiki. (Sepertinya ada yg salah, yasudahlah). O, iya… waktu perjalanan pulang, aku banyak bertemu makhluk-makhluk penduduk asli sana. Ada monyet putih #monyetbule , Ayam alas, banteng. Yang satu ini hati-hati kadang nakal, katanya petugas disana. Sempat saat perjalanan pulang dia nyebrang seenaknya motong jalan. Ngelirik aku, lagi. Aku kan jadi gimana ya? Takutlah pastinya. Negative thingking mulu ini pembaca. Ya, sekedar saran saja dari orang sok bijak, hati-hati kalau kesana. Jaga keselamatan. Keselamatan hewan disana pastinya. Jangan mengambil apapun, kecuali foto dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki. Happy Travelling Guys.


Dengan pemandangan gunung di belakangnya

Percaya kan? No Edit lo ya?


Pohon yang ngajak aku selfie



Teluk Hijau (Green Bay) Kebangga'an Kota Banyuwangi



Dari sekian lama akhirnya aku sampai juga di tempat kebanggaan kota kelahiranku yang satu ini. Teluk Hijau Banyuwangi, atau biasa dipanggil Green Bay.


Perjalanan cukup memuaskan, cukup jauh dari rumah aku. Memakan waktu sekitar 3 jam. Untuk menuju ke tempat ini kita harus melewati jalan yang belum diaspal sekitar 25km lebih. Kenapa aku bisa bilang 25km lebih? karena dari pos penjaga yang nomor 2 ada papan petunjuk jalan menujukkan Green Bay kurang 17km. Dan itu jalannya belum cukup baik. Gronjal-gronjal. Sebelum menuju pintu masuk teluk hijau, kita bisa melihat indahnya Pantai Sungapan di sebelah kiri jalan. Tiket masuk ke Green Bay: Rp. 7.000, Parkir: Rp. 5.000 dan Naik perahu untuk menuju Green Baynya: Rp. 35.000 /orang.


Yap. Dari pos pintu masuk untuk menuju Teluk Hijau kita bisa pakai dua ja
lan. Pertama naik ojek dan pilihan yang kedua adalah naik perahu. Waktu itu aku naik perahu. Delapan orang.


-

Sampai di Teluk Hijaunya pemandangannya sangat indah. Airnya juga masih bersih. Berwarna hijau. Membuat aku tidak bisa menahan untuk mandi disana. Karang-karangnya pas sekali untuk berfoto. Hati-hati jika kesini, hati-hati dengan penghuni teluk hijau, yaitu siapa lagi kalau bukan Monyet-monyet yang nakal. Monyet yang suka mencuri makanan para pengunjung. Banyak sekali Monyet disini.


So? buat yang mau kesini silakan menikmati keindahan kota Banyuwangi bersama teman atau keluarga. Recomended. Jalannya cukup mudah, cukup dekat dengan Pulau Merah. "Don't leave anything but frontprint & Don't take anything but picture" - Slogan Green Bay


-

Quotes

I Only Need Coffee on Days Ending with "Y"

Riz

#Coffee

Every day is a journey, and the journey itself is home

Matsuo Basho

#Traveling #Journey

What i like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce

Karl Lagerfeld

#Moment #Photo #Photography